Upacara Adat Pangantan Benusan di Sumenep

Posted on 27/03/2012

Syaf Anton Wr

pangantan banussan

(Illustrasi)

Disalah satu desa, namanya Karangbudi yang terletak di  kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, tepatnya sekitar 8 km kearah timur daya dari kota Sumenep, ada kampung oleh masyarakat setempat di sebut kampung Benusan.

Kata Benusan sendiri menuru  cerita konon disana pernah terjadi peperangan antara antara Pangeran Lor dengan Prajurit Bali. Peperangan itu terjadi  disebelah  selatan kampung Benusan atau posisinya di tengah-tengah persawahan. Ditempat tersebut ada bidang tannah yang agak tinggi yang oleh masyarakat setempat disebut tenggina , atau tempat yang tinggi.

Dsalam peperangan tersebut tentu mengakibatkan kedua belak pihak ada yang luka atau kalah (tato). Nah, para prajurit yang tato diusung dengan menggunakan bendusa (bendosa/ alat pemikul jenazah dari kayu) yang kerap diucapkan oleh  orang Bali. Tapi ternyata ucapan tersebut (barangkali) salah dengar yang diterima oleh masyarakat sekitar, akhirnya kata bendosa diucap menjadi bennosa, yang selanjurnya menjadi Benusan. Kata Benusan itulah akhirnya melegenda dan dijadikan nama kampung tempat peperangan itu terjadi, yaitu Kampung Benusan.

Konon sebelum Pangeran Lor jadi adipati, seorang  adipati bernama Arya Wirya Wigananda bertahta di  Gapura, nsmun  tidak seberapa lama lalu meninggalkan wilayah kekuasaannya itu dan meninggalkan  parajuti-prajuritnya. Dan pada akhirnya para prajurit tersebut menetap dan banyak bedomisili di Desa Karangbudi dan Braji

Dari sebuah cerita kata Braji sendiri berasal dari kata  Aji dan Ber.  Aji berarti “harga diri” dan kata Ber bermakna “mempunyai”. Jadi kata Braji mempunyai arti “mempunyai harga diri”, karena pada saat Pangeran Lor langsung terjun dalam medan peperangan.

Sedang penduduk kampung Benusan sendiri banyak diantaranya merupakan dari sisa  tentara-tentara Wigananda dan berdomili disitu serta menjaga perbatasan anatara Desa Karangbudi dan Braji. Mereka membaur dengan masyarakat setempat termasuk masyarakat Benusan.  Lantaran terjadinya proses akulturasi antara dua budaya; yaitu budaya masyarakat setempat, dan budaya kraton, maka prilaku kehidupan masyarakat setempat dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya menyatu dalam sebuat ikatan budaya, yang antara lain dalam hal tradisi dan upacara adat pengantin.

Tradisi dan adar upacara pengantin masyarakat Bannusan memang bisa dibilang unik dan menarik, meski banyak sisi didalamnya dalam tata cara adat tersebut banyak persamaan upacara adat pengatin masyarakat Sumenep dan Madura umumnya.

Kemenarikan adat pengatin ini, telah menjadi kelaziman bahwa setiap setiap seorang laki-laki mengajukan lamaran, telah diatur tatacara atau adat istiadat, atau adhab asor yang telah disepakati bersama, yaitu diawali dari rombongan keluarga calon pengantin laki-laki mendatangi dan berkunjung kekeluarga calon pengantin perempuan.

Dengan sebuah iring-iringan sebuah rombongan serta dilengkapi bawaan yang nantinya sebagai simbol atau kias maksud dan tujuan kedatangan rombongan, serta dilengkapi iringan musik saronen, sebagai ciri khas musik tradisi Madura.

Dengan pakaian adat Madura tengah-tengahan, yaitu mengenakan pakaian beskap, odengan (ikat kepala) serta baju pesa’  untuk laki-laki, serta kain panjang serta kelengkapan busa Madura  lainnya bagi perempuan. Datanglah rombongon laki-laki (calon besan) ke tujuan. Ketika masuk halaman rumah, mereka tidak langsung menuju emper rumah, namun di pintu pagar halaman mereka mulau berjalan dengan jongkok secara pelan-pelan.

Namun ketika menjelang menuju pintu rumah, maka terjadilan dialog antara rombongan keluarga laki sebagai tamu dan keluarga perempuan sebagai tuan rumah. Namun dalam dialog masing-masing diwakili seseorang yang memang mempunyai profesi sebagai pangadha’ atau tokang pangadha’ yaitu seorang juru atau mediator yang berpenting terjadinya peristiwa dan keberlanjutan laman pengatin tersebut.

Dengan begitu ada semacam lir-gumilir atau dialog, antara sipengiring wakil calon pengantin laki-laki dengan wakil tuan ruman (pihak keluarga perempuan) sampai keluraga laki-laki diterima lamarannya.

Ungkapan atau ucapan awal biasanya disampaikan sebagai berikut:

Pengantar (Wakil keluarga laki-laki)

Pangapora

Penyambut (Wakil kelurga perempuan)

Iyatore longghu

Pengantar:

Pangopara, abdina mator rancanganna badhan, tolang  mator cangkolang, saebu dadhukan esandhangnga e atas bun-bunan, abdina ngaddu bangal margha abdina ngangguy elmu sareang. Bismillah, bis nyabis, mil macomel, Allah da’ ka Allah se sefat rahman  sareng rahim, se ta’ aotang panyo’on, dari ka’dinto badhan kaula bisa nattollagi tenana ate kaangguy ngalenang neter nasraddha paseoman ka’dinto

Terjemahan bebasnya:

Pengantar (Wakil keluarga laki-laki)

Permisi

Penyambut (Wakil kelurga perempuan)

Silkakan masuk / duduk

Pengantar:

Permisi, saya (kami) menyampaikan keingin badan, tulang mengucapkan kurang etis, seribu marah mau disandang diatas ubun-ubun, saya mengadu beradu berani, karena saya menggunakan ilmu anak sulung. Bismillah, saya datang dengan ngomel, Allah kepada Allah yang mempunyai sifat rahman dan rahim, yang tidak berhutang permintaan, dari sinilah saya dapat menentukan hatinya hati untuk meniti menuju hasrat ini

Sarat Ungkapan Kias

Setelah demikian lama terjadi dialog, bahkan cenderung adu ketrampilan dalam menyampaikan kata-kata atau kalimat-kalimat kias yang bernilai puitis itu, tergantung sejauh mana kemampuan masing wakil mengungkapkan kalimat atau kata-katanya. Kalau memang ternyata maksud dan tujuan meragukan atau oleh sebab lain ternyata kurang mendapat respon dari pihak tuan rumah, bisa akan terjadi penolakan.

Demikian pula sebaliknya apabila ternyata keduabelah pihak sama-sama merespon dan sarojhu’ (sepakat), maka lamaran itu dapat diterima dan bisa dilanjutkan kejenjang berikutnya, yaitu perkawinan.

Bila memang sarohju’ si rombongan calon pengantin laki-laki, lalu dizinkan dan dipersilakan untuk masuk. Setelah masuk ketempat yang disediakan yaitu tarop (terop) yang kemudian dimaknakan sebagai : ta: nata (menata barang), adat tengka se ampon sorop. (adat tingkah laku yang sudah surup (senja)

Setelah mereka berkumpul di bawah terop, kedua belah pihak mulai membahas lagi beberapa hal yang berkaitan dengan  kelanjutan pertemuan tersebut. Dalam kondisi seperti kembali diungkap dengan simbol-simbol atau kias, yang dalam posisi tersebut direprentasikan melalui macapat (yaitu seni tradisi lisan yang mengungkap dan menafsirkan beberapa makna kehidupan dalam bentuk lanturan syi’ir (macapatan) dan panegghes (kalinat-kaloiman yang dijabarkan atau ditegaskan).

Kisah sastra lisan dalam macapat tersebut, yaitu membahas sekitar pengatin dan proses kehidupan dan tanggung jawabnya. Hal ini berlangsung semalam suntuk, baik tamu atau pengirim dari rombongan laki-kali maupun  tuan rumah dari keluarga perempuan mengikuti dengan seksama dan suntuk. Itulah yang nantinya menjadi bekal dan wejangan dalam menjalani hidup kedua calon suami istri tersebut.

Tiga hal pokok yang biasanya menjadi pedoman bagi calon suami istri, bagaimana memahami ten-atenna reng Madhura, yaitu :

Pertama, harus abhantal sahadhat apajung Allah asapo’ iman asandhing Rasulullah. (berbantal sahadat, berpayung Allah, berselimut iman bersanding Rasulullah). Sedang untuk menjadi manusia yang seutuhnya setiap manusia harus melakukan  kennenganna kennengi lalakonna lakoni jalanna jalani, (tempati tempatnya, kerjakan pekerjaannya, jalani jalannya sendiri). Artinya setiap manusia mempunya tempat dan jalan masing-masing, satu dengan yang lain tidak boleh menyerobot, tidak boleh mengambil hak-hak orang lain.

Lalu,  mon bagus pabagas, mon tegges pategges, mon kerras pakerres (kalau bagus/baik yang baik sekalian, kalau mau tegas yang tegas dan berani sekalian, kalau keras yang keris sekalian, hingga punya kesaktian dan disegani), juga sapa se atani atana’, sapa se adagang adaging, palebur ka orang se ngobber dupa mi’ pola melo ro’omma, deggi’ kabekkasan daddi oreng se samporna. (siapa yang bertani pasti dapat makan, siapa yang berdagang bakal berdaging, berbaik-baiklah pada orang yang membakar dupa, siapa tahu kebagian harumnya, nanti akan membekas jadi orang yang hidupa sempurna)

Sebagai orang madura haruis mempunyai greget tinggi, tidak berpangku tangan, sebagai nelayan harus abhantal ombha’ asapo’ angen, meski demikian tidak melupakan  abntal sahadat asopa’ iman. Hal inilah yang nantinya akan memnuhi kehidupan berumah tangga.

Sebagai manusia jangan sekali-kali cuma adigang adigung diguna , karana adigang adigung adiguna (ad: besar, gang: perawakan/ atau kekuatan fisik, gung : keturunan orang terhormat , guna : kepintaran, kecendikan), semua itu tidak akan ada artinya tanpa dibekali dengan kekuatan lain,  karena manusia hanyalah dherma (darma)

Selain kedua pengantin diharapkan juga bisa punya kerres (keris), kerres mempunyai  makna filosofi atau bidal : yaitu arti kepada satu ttik atau tujuan. Bila menuju satu titik bisa dicapai, maka manusia bakal maangker oreng ta’ maddadi keres (memberi kesan digdaya dan tidak menjadi terbelakang/rendah)

Yang kedua harus punya keteran (burung perkutut) yaitu  ke punya arti kiyai, ulama . Belajar dan belajarlah pada kiyai atau ulama sampau mempunyai jimat (ngaji sampai tammat, meski sampai liang lahat ). Sedang kata te: punya makna papate (patih). Setiap warga harus patuh dan mengabdi pada pimpinan, karena dalam falsafah Madhura dikenal dengan ungkapan bhupa’, bhabu’, guru, rato, jadi setiap manusia wajib mengadi serta serta berdedikasi diri sebagai warga negara ,bermasyarakat dan berlingkungan yang baik. Kemudian kata ran, yaitu pangeran. Setiap manusia harus mempunyai semangat dan jiwa pangeran, kreatif, inonatif dan mempunya wawasan kedepan, yang nantinya akan menjadi raja atau pemipin bangsa dan negara

Yang ketiga, yaitu harus ngobu jharan (memelihara kuda). Bahwa jharan atau kuda dikiaskan sebagai hewan yang tangguh, tidak bermalas-malasan, suka bekerja berat meski menanggung beban berat. Itulah antara gambaran jharan sebagai motivasi calon pengantin yang nantinya akan menjalani luku-liku hidup harus berjuang keras untuk memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya.

Itulah antara lain petuah-petuah yang disampaikan para pengirim dari kedua belah bihak. Dialog ini disampiakan secara santai, kekeluargaan namun sarat makna yang dikandungnya.

Menurut Moh. Taufik, salah seorang yang kerap dipercaya sebagai wakil keluarga pengantin itu, menyatakan bahwa sampai saat ini tradisi dan upacara adat Pangantan Bannusan  masih berlangsung, khususnya di sekitar Desa Braji dan Karangbudi. Taufik yang telah menerbitkan buku Sangkolan Bukona Tamba, tampaknya menjadi generasi terakhir yang akan berusaha mempertankan tradisi tersebut. (Lontar Madura)

Tags: , , , ,

Categories: Tradisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *