Syi’ir, Sastra Lisan Madura Tumbuh dari Pesantren

Mamaca, salah satu bentur syi”ir yang berkembang di Madura

Pulau Madura termasuk wilayah Propinsi Jawa Timur. Secara giografis berada dibagian timur dan utara Jawa Timur. Terdiri dari empat wilayah atministratif yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep yang berada di ujung timur. Penduduk Pulau Madura ialah sukubangsa Madura, yang mempunyai bahasa daerah sendiri yaitu Bahasa Madura.

Suku bangsa Madura sejak zaman dahulu sedikit sekali mewariskan karya-karya sastra dalam bentuk tulisan, karena pada sebelum abad ke-20 pada umumnya orang Madura menulis dan membaca karya-karya sastra berbahasa Jawa, antara lain dalam bentuk cerita tembang.

Bahkan kitab-kitab agama Islam yang diajarkan di pesantren menggunakan terjemahan dalam bahasa Jawa. Murat atau penjelasannya saja yang menggunakan bahasa Madura. Sampai sekarang di beberapa pesantren di Madura, yang menggunakan kitab terjemah berbahasa Jawa antara lain terdapat di pesantren Karang Anyar, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Selain itu juga terdapat di pesantren Lambicabbi, Kecamatan Gapura, dan di pesantren Pacenan, Desa Batangbatang Daya,  Kecamatan Batangbatang, Kabupaten Sumenep.

Karena itu tradisi lisan di Pulau Madura pernah hidup dengan subur. Kesenian tradisi lisan itu merupakan pernyataan jiwa orang Madura di tengah-tengah kehidupan. Alam Madura yang sebahagian gersang telah melahirkan suara-suara yang menyatakan rasa seni dalam menjawab tantangan alam. Alam yang berbukit-bukit dengan tumbuh-tumbuhan yang khas telah melahirkan seniman yang menyuarakan gairah kehidupan.

Ketika sastra tulis tidak begitu subur, sastra lisan menjadi sesuatu yang niscaya, karena pertanyaan dan persoalan-persoalan kehidupan tidak bisa dijawab dengan bisu. Suara nurani, detak jantung, desiran darah, kegetiran hidup, penderitaan dan rasa senang akan tampil memperdengarkan suara suara terdalam kemanusiaan.

Pulau Madura yang sebahagian terdiri dari tanah kapur dan pegunungan berbatu dengan masyarakatnya yang suka kerja keras baik sebagai petani, peternak sapi, dan sebagian jadi pelaut, telah meninggalkan beragam karya kesenian yang antara lain berupa tradisi lisan. Namun warisan dari zaman yang silam itu sebahagian sudah hilang dan tidak dijumpai ditengah-tengah masyarakat. Sedangkan sebahagian lagi tampak masih bertahan karena masih punya relevansi dengan hidup kekinian.

Penelitian terhadap Kesenian Madura, antara lain telah dilakukan oleh Helene Bouvier pada tahun 1980-an. Hasil penelitian Helene Bouvier selama 4 tahun di Desa Danggeddang dan Juruwan Laok itu, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, yang berupa desertasi dalam meraih gelar doktor itu telah terbit di Perancis pada tahun 1994. Sedangkan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia berjudul “Lebur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura” terbit pada tahun 2002. Penelitian Helene juga menyentuh tradisi lisan Madura.

Dalam makalah ini saya akan berusaha membicarakan beberapa seni lisan yang terdapat di ujung timur pulau Madura, tepatnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Dengan catatan apa yang terdapat di wilayah ujung timur ini sebagiann besar juga terdapat di wilayah-wilayah lain di pulau Madura. Makalah ini diharapkan memberi sedikit gambaran tentang tradisi lisan di pulau Madura.

 Syi’ir

Menginat di pulau Madura banyak terdapat pesantren, maka tidak mustahil kalau pernah tumbuh subur sastra pesantren. Sastra pesantren ialah sastra keagamaan yang berpusat di pesantren. Karena pesantren merupakan tempat pendidikan agama, maka sangat besar andilnya dalam pengembangan karangan-karangan keagamaan yang bernilai sastra.

Di antara salah-satu bentuk sastra pesantren ialah syi’ir yang berasal dari salah-satu bentuk puisi arab. Pada umumnya syi’ir itu ditulis oleh para santri zaman dahulu di luar waktu-waktu belajar. Ketika di pesantren belum adaa madrasah seperti sekarang, maka santri-santri yang bertempat tinggal atau mondok di kompleks kediaman kiai itu mempunyai banyak waktu terluang untuk menggubah syi’ir. Meskipun demikian para kiai banyak juga yang menulis syi’ir.

Biasanya syi’ir itu dilagukan dengan suara merdu dan dan penggemarnya banyak sekali di luar pesantren. Syi’ir itu mempunyai lagu-lagu yang bermacam-macam dan masing-masing pesantren ada yang mempunyai variasi sendiri-sendiri. Bentuk syi’ir ini sama dengan syair dalam sastra Melayu, yang terdiri dari empat bait dengan pola rima a a a a.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.