Rumah Panggung Sapeken yang Hampir Punah

rumah-panggung
Hanya beberapa rumah saja yang bertahan

Kelebihan yang lain, seperti sejuk dengan desiran angin-anginnya, artinya rumah panggung lebih adem, dingin dan nyaman serta praktis. Tidak ada rasa panas, pengap atau orang Madura mengatakan soap. Itulah sebagian kelebihan dari rumah panggung.

Dari segi kelemahan, pastilah ada kelemahan atau kekurangannya. Karena kehidupan itu telah mengajarkan tentang dua sisi yang tak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia yaitu kelebihan dan kekurangan.

Kekurangan atau kelemahan dari rumah panggung, diantaranya terkait perawatan yang lebih sering dilakukan, artinya rumah panggung tidak bisa bertahan lama seperti rumah tembok. Kemungkinan terbesar disebabkan bahan alam yang mudah keropos. Bahan kayunya saja, bila kualitas kayu yang bukan kayu super akan lebih cepat keropos tidak bisa bertahan lebih dari 4 – 5 tahun.

Papan-papanpun yang digunakan sebagai lantai, pintu, jendela dan dinding akan mudah keropos bila menggunakan kayu yang biasa-biasa saja. Umumnya kayu jati lebih banya digunakan untuk membuat rumah panggung. Kayu jati memiliki kualitas berbeda, namun kayu jati lebih kuat daripada kayu lainnya. Kemudian atapnya yang menggunakan jerami atau daun kelapa, itu hanya mampu bertahan 3 – 4 tahun, baru diperbaharui lagi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan tehnologi, rumah panggung mulai ditinggalkan. Masyarakat sudah beralih pada rumah-rumah tembok yang modern atau minimalis dan gaya-gaya lainnya.

Sebagai pertimbangan, karena rumah tembok lebih awet, kuat dan tahan lama. Pun juga perawatannya tidak sesering dilakukan seperti rumah panggung. Dan pada akhirnya budaya rumah panggung sudah semakin menghilang dari tatanan kehidupan masyarakat di pulau. Mulai tergerus oleh model-model rumah kekinian.

Akan tetapi, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tidak seharusnya membunuh begitu saja suatu budaya yang ada di masyarakat. Bagaimana melestarikan dengan inovasi dan kreatifitas agar jejak-jejak sejarah tidak hilang begitu saja. Dan terus mengalir dari generasi ke generasi.

Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa melestarikan alam, budaya dan sejarah suatu bangsa adalah bagian dari mewujudkan kemerdekaan serta kemajuan bangsa dan negara yang besar seperti Indonesia. Aku Cinta Tanah Air Indonesia. (Orang Pinggiran di bengkel Pembebasan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.