Penangkaran Bekisar Tradisional di Kangean

Posted on 16/03/2011
ayam bekisarPulau Kangean, sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep memang dikenal dengan nama Pulau Bekisar. Pasalnya, di pulau itulah ditemukan kali pertama bibit ayam bekisar.
Ayam bekisar merupakan ayam bersuara khas, hasil persilangan antara ayam hutan dan ayam kampung. Karena ke khas-an suaranya itulah, harga ayam bekisar bisa mencapai jutaan rupiah. Karena harganya yang melangit, warga Kangean akhirnya mencoba menangkarkannya dengan cara tradisional. Seperti yang dilakukan Muhammad Ali, warga Desa Torjak, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Sumenep. Dengan bermodal tiga ekor ayam hutan jantan, dikawinkanlah ayam itu dengan ayam kampung betina.

Caranya, ayam kampung betina dipendam sebagian tubuhnya ke dalam tanah dan pada bagian sayapnya dipasangi bambu. Ini dilakukan sebagai penahan agar ayam tidak lari. Selanjutnya, ayam hutan jantan yang ada di dalam sangkar dikeluarkan.  Tapi sebelumnya, nafsu ayam hutan jantan harus dipancing dulu dengan menggunakan ayam hutan betina. Karena, ayam hutan jantan biasanya tidak mau dikawinkan langsung dengan ayam kampung betina.

Setelah nafsu ayam hutan jantan memuncak, Mohammad Ali kemudian menyodorkannya ke ayam kampung betina sehingga terjadilah proses perkawinan.  Agar benih yang ada di rahim ayam betina kampung aman dan tidak hilang, Mohammad Ali memasang pengaman dari potongan batok kelapa yang di bagian belakang ayam betina kampung. Hal tersebut dimaksdukan agar tidak terjadi perkawinan antara ayam kampung betina dan ayam jantan lainnya di luar jenis ayam hutan.

Untuk memperoleh bibit ayam bekisar yang bagus, pejantan ayam hutan dan ayam betina kampung harus dari jenis yang unggul, sehat dan memiliki bulu tebal.  Kalau memang mau bibit keturunan ayam yang mahal, pejantan ayam hutan dan betina harus dipilih dari jenis yang unggul. Nantinya, anak ayam akan mengikuti induknya, jelas M Ali.

Ayam kampung betina yang sudah bertelor dari hasil perkawinan dengan ayam jantan hutan kemudian ditetaskan oleh induk ayam kampung betina. Namun anak ayam yang menetas tidak semuanya menjadi bibit ayam bekisar. Dari sepuluh telur ayam yang menetas, kemungkinan yang jadi ayam bekisar hanya tiga sampai lima anak ayam saja.

Hasilnya, ayam bekisar yang sudah bersuara cukir harganya sangat mahal, mencapai Rp 5 juta. Sedangkan anak ayam bekisar yang baru dipisah dari induknya sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 750 ribu.  Untuk mendapatkan keuntungan atas hasil perkawinan ayam-ayamnya itu, Mohammad Ali biasanya memenuhi permintaan penghobi ayam bekisar di Jakarta, Yogjakarta, Solo dan Surabaya.

Umumnya, permintaan ayam bekisar itu digunakan untuk ayam aduan. Karena, ayam bekisar yang sering memenangkan perlombaan suara, harga jualnya mencapai puluhan juta rupiah. (san/eda)

sumber: http://www.kangean.net/

 

Tags: ,

Categories: Tradisi


6 Responses

  1. Nurman:

    Bekisar adalah salah satu satwa yang langka yang perlu perhatian kita semua untuk melindunginya dari kepunahan. Upaya nyata dari masyarakat adalah penangkaran.

    15.03.2016 04:46 Reply

    • Lontar Madura:

      Sayangnya sekarang hampir punah, para penangkar tampaknya mulai melakukannya lagi

      17.03.2016 18:54 Reply

  2. nong jengakara:

    ali itu ogr pendatang bkn org kangean asli..klo ditorjak namanya matrasek yg menangkara ayam begisar kangean…sekedar meluruskan

    25.10.2012 16:19 Reply

    • admin:

      Tulisan ini berupa softnews, dari sumber link. Bisa jadi sang jurnalis hanya dapat sumber konfirmasi dari Mohammad Ali.

      26.10.2012 00:27 Reply

  3. nong jengakara:

    g ada yg namax m.ali ditorjak mas….yg da kak matrasek itu br yg tlh lama menangkar begisar……skedar mskn biar jls

    25.10.2012 16:15 Reply

    • admin:

      Waah kalau gitu, tolong dong bantu tuliskan profil Matrasek, pasti lebih menarik.

      26.10.2012 07:39 Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *