Pangeran Saccadiningrat I dan II (Raja Sumenep)

Posted on 30/06/2012

Pangeran Saccadiningrat I (Raja Sumenep VII)

Illustrasi

Illustrasi

Babad menyebutkan sepeninggal Pangeran  Mandaraka, kerajaan dibelah dua, antara
Pangeran Bukabu den Pangeran Baragung. Tentang Pangeran Bukabu Babad tidak banyak terberitakan dalam, tidak seperti P. Baragung. P. Baragung mempunyai seorang puteri bemama Endang Kilengngan, yang kawin dengan Bramakandha. Dari hasil perkawinannya itu, lahir seorang putera bernama Wakung Ru’yat. Setelah dewasa dia menggantikan ayahnya sebagai raja Sumenep, bergelar Pengeran Saccadiningrat I. Pusat pemerintahannya berada di Benasareh. Pada waktu Itu kerajaan Sumenep masib berada di bawab kekuasaan Majapahit

Pangeran  Saccadiningrat I ini kawin dengan Dewi Sarine. puteri Pangeran Bukabu, yang kemudian mempunyai anak perempuan bemama Saine, yang bergelar Puteri Kuning. Dengan perkawinan di antara kedua keturunan raja Sumenep itu (Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung) mungkin diharapkan timbulnya persatuan kembali di antara keluarga raja Sumenep, yang pecah sepeninggal P.Mandaraka. Atas dasar ini, kerajaan Sumenep dapat dipersatukan kembali pada masa pemerint ahan P. Saccadlnirigrat I.

Model perkawinan demikian kita kenal dalam sejarah kuna Indonesia, yang dikenal sebagai perkawinan politik (the export of princesses), atau menurut istilah Berg adaLah “in a devine unio mystica” (Zoetmutder 1965, 331-332). Hal ini dilakukan sebagai peningkatan metode guna mempertaharikan politik suatu kerajaan dengan cara pengikatan melalui suatu pranata perkawinan. Dari cara itulah yang dipilih oleh Pangeran  Saccadiningrat 1.

Puteri Kuning. memiliki kegemaran bertapa. Pada suatu waktu dia pergi ke gunung Pajuddan untuk bertapa. Setelah 7 hari 7 malam, tepat tanggal 14 malam bulan pumama dia bermimpi bertemu dengan seseorang, dan melakukan persetubuhan dangannya. Orang itu kemudian dikenal sebagai Adi Poday, putera kedua Panembahari Blingi, yang bergelar Arya Pulangjiwo yang berkuasa Si Pulau Sepudi. Dan karena mimpinya itu Puteri Kuning akhirnya mengandung. Kemudian lahirlah seorang putera yang diberi nama Joko Tale.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya perkawinan Puteri Koneng dengan Adi Poday sebenamya tidak mendapat persetujuan ayahnya, sebab Sapudi merupakan kerajaan bawahan Sunenep. Tentang bagaimana pemerintahan Sumenep di bawah Pangeran  Saccadiningrat I, Babad tidak menceritakan.

Pangeran Saccadiningrat II (Raja Sumenep VIII)

Berdasarkan garis keturunan, sebenarnya yang menggantikan Pangeran Saccadiningrat I adalah puterinya Dewi Saine/ Adi Poday. Akan tetapi justru cucunya, Joko Tole (Arya Kuda Panoleh). Di dalam tradisi kerajaan Sumenep, nampaknya kekuasaan tidak pernah jatuh kepada anak perempuannya, tetapi kepada saudara laki-laki, atau anak laki-laki. Ini terbukti bahwa di dalam sejarah dinasti Sumenep, tidak pemah ada raja perempuan. Selain itu Adi Poday hendak menggantikan ayahnya sebagai panguasa di P. Sepudi.

Joko Tole  yang bergelar Pangeran  Saccadiningrat II mempunyai seorang adik laki-laki, bemama Banyak Wedi yang kini menjadi penguasa di Gersik, berkat perkawinannya dengan puteri raja Gersik yang terdahulu bemama Puteri Sekar. Dia memiliki 3 orang anak, yaitu; Arya Banyak Modhang, Arya Susuli, dan seorang perempuan. Pada saat pemerintahan Joko Tole, raja Gersik iyu  pemah berkunjung ke Sumenep. Dan kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Sumenep dengan Gersik cukup baik. Dan hubungan ini nampak ditingkatkan pada masa-masa selanjutnya, terutama di dalam bidang ekonomi perdagangan (Sutjipto; 1977, 177).

Dikisahkan, Arya Modhang dijodohkan dengan puteri Patih Sumenep Jaya Sengnga. Sedangkan puterinya dikawinkan dengan putera Pangeran  Saccadiningrat II, yang bernama Arya Wigananda. Dengan adanya perkawinan ini dihar apkan hubungan antara Sumenep dan Gersik akan semakin erat.

Pada masa pemerintahan Pangeran  Saccadiningrat II ini ada 2 peristiwa perang. Pertama dengan kerajaan Keling, dan kedua perang dengan kerajaan Bali. Untuk yang pertama telah dibahas dalam tulisan sebelumnya

Peristiwa peperangan yang teijadi antara Sumenep dan Bali tidak disebutkan sama sekali dalam Babad Songenep. Sedangkan cerita Si Panunggang si Mega menguraikan panjang Ie bar peristiwa itu. Namun bila kita mengingat bahwa Babad dibuat sebagai puja sastra bagi raja, kiranya hal itu dapat dimengerti. Peristiwa perang dengan Bali itu diawali dengan kedatangan utusan raja Bali yang membawa surat lontar yang menyatakan akan datangnya putera mahkota raja Bali ke Sumenep, dengan harapan agar mendapat sambutan baik dari raja Sumenep.

Akan tetapi tanpa diduga para prajurit Bali itu menyerang raja Sumenep, sehingga perangpun tak dapat dihindari. Dalam peperangan itu Pangeran  Saccadiningrat II kena tombak, sehingga oleh prajuritnya dibawa keluar medan peperangan, dilarikan ke desa Lapataman, terus ke Benasare, kâdipaten lama. Pada suatu tempat (Tang-batang) dia wafat, tetapi terus diusung hingga perbatasan aritara Saasa dan Lsnjhuk, di ternpat itulah jenasah Pangeran  Saccadiningrat II dimakamkan.

Sementara peperangan lerus bertangsung dengan bantuan raja Gersik, Banyak Wide pasukan Sumenep berhasil mengalahkan pasukan Bali (h.131-135). Sampai di mana kebenaran peristiwa itu sulit dipastikan, karena terbatasnya sumber, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa di Sumenep ada sebuah desa yang bernama Gir-Papas. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat,  penduduk desa tersebut memang anak keturunan pan pasukan Bali yang datihulu pernah mengalami kekalahan dari pasukan Sumenep. Dan dilihat dari tradisi dan adat setempat tampaknya ada kemiripan dengan apa yang ada di Bali.  Kalau hal itu ada memang benar, maka memang pernah terjadi peperangan antara Sumenep dan Bali.

Sepeninggal R Saccádiningrat II, kerajaan Sunienep diserahkan kepada putranya, Arya Wigañanda, dan pusat pemerintahanpun dipindahkan ke Gappora (Gapura). Patihnya bernama Banyak Modhang. lTidak banyak yang diketahui tentang masa pemerintahan Arya  Wigananda ini.

Bersambung ke : Pangeran  Saccadiningrat III (Raja Sumenep X)

Tags: , , ,

Categories: Sejarah


One Response

  1. sayyidi ainul yaqin:

    mohon tanya, babad yang dimaksudkan di atas karangan siapa?. masih ada apa tidak babad tersebut?

    12.11.2013 11:12 Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *