Lelucon Madura (1)

gambar: alapola.com
gambar: alapola.com

Pesawat Jurusan Jakarta

Suatu ketika seorang Madura hendak pergi ke Jakarta dengan Pesawat terbang. Dia mendapatkan nomor tempat duduk di nomor kesekian dari belakang. Tetapi dia menempati Kursi terdepan pesawat milik penumpang lain yang belum datang.

Orang Madura tersebut tetep maksa walaupun penumpang lain sudah datang. Sang pramugari kehabisan akal untuk membujuk bapak Madura tersebut untuk pindah ke tempat duduk ang sesuai dengan tiketnya.

Karena menurut logika orang madura tersebut yang datang duluan adalah yang berhak menempati tempat terdepan (seperti masuk masjid). Bapak Madura tetep kekeh mempertahankan nya. Akhirnya pramugari mengadu kepada sang Pilot

Pramugari : “ Pak… ini ada orang gak mau pindah ke tempat duduknya. Maunya duduk didepan.
Pilot : “ loh gimana si…”
Pramugari : iyah pak dia orang Madura tuh.. ”
Kemudian Pilot dengan entengnya berkata.. “ooh.. orang madura toh.. sini biar saya yang hadapi…” Sang Pilot pun keluar dari kokpitnya menemui orang Madura tersebut..
Pilot :” permisi bapak…”
Orang Madura : Iyya pak…”
Pilot : bapak naik pesawat ini tujuannya mau pergi kemana pak..?
Orang Madura : saya mau ke Jakarta pak..
Pilot : “ ooh.. yayaya… tapi kursi depan ini untuk tujuan ke Surabaya pak.. yang ke Jakarta duduknya dibelakang..”
Orang Madura : “oooh. Gitu yah pak.. yasudah saya duk – duduk dibelakang saja pak. Wong saya mau ke Jakarta kok.. permisi pak. Makasih
Pramugari : “heeeeeh…..”@#$%^&^%

 

Nginjak Kaki

Di dalam bis kota yang berjubel penumpang, seorang penumpang yang berdiri bertanya kepada penumpang yang berdesakan di depannya yang badannya kekar, tegap, dan berambut cepak, yang juga tidak kebagian tempat duduk.

“Maaf, Pak, apakah sampiyan tentara?” (dengan logat khas Bangkalan!)
“Bukan.”
“Sampiyan angkatan udara?”
“Bukan juga.”
“Marinir ya?”
“Ah bukan … Ada apa to sebenarnya!” (dengan logat khas Jogja)
“O tahu saya, … sampiyan pasti polisi.”
“Polisi? Bukan!”
“Kalau begitu, … jancuk sampiyan!”
“Lho lho lho … kenapa marah?”
“Ini sampiyan ’nginjak kaki saya dari tadi.”

 

Lagu Wajib Upacara

Untuk menyambut kunjungan rombongan menteri, sebuah pesantren menggelar upacara resmi. Khusus kali ini ada tambahan acara: pembacaan Pancasila, lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”, dan lagu wajib ”Satu Nusa Satu Bangsa”—tidak ketinggalan pembacaan ayat suci AlQur’an dan pidato.

Protokol: ”Pembacaan Pancasila.”
Petugas: ”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Satu, Pancasila. Dua, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tiga, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Empat, Persatuan Indonesia. Lima, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Enam, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
(Dan seterusnya … sampai menyanyikan lagu wajib.)
Protokol: ”Menyanyikan lagu wajib.”
Petugas: ”Ambil suara …. Saaa …..
Peserta: ”Shaaa ……
Petugas: ”Satu … dua … tiga …
Peserta: ”Shalatullah salamullah …”

 

Cuma Bantu Satu Hari

Dalam sebuah Pemilu 1997 seorang kepala desa (kades) marah besar kepada rakyatnya lantaran di desanya Golkar kalah oleh PPP.

Pak Kades: Saudara-Saudara tidak jujur kepada saya. Katanya akan membantu saya dalam Pemilu. Ini kok Golkar malah kalah. Saya sangat kecewa.
Tokoh Masyarakat: Pak Kades jangan marah-marah begitu. Dalam lima tahun, sepanjang 1.824 hari kami patuh membantu Bapak. ’Kan hanya 1 hari saja kami membantu Pak Kiai, … masa nggak boleh. (1 tahun = 365 hari; 5 tahun = 5 x 365 = 1.825 hari. dj)

 

Telor Ayam

Seorang ibu PKL menjajakan telornya di Pelabuhan Kamal. Salah seorang turis domestik (dari Semarang) tertarik untuk beli oleh-oleh buat keluarga, maka ia mendekati penjual telor.

Penjual: ”Telor telor! Mari, Mas, telurnya sar-besar, teng-ganteng nih kayak yang beli.
Turis: ”Ini telur ayam ya, Bu?”
Penjual: ”Ya, telor ayam. Murah, sar-besar.”
(Turis domestik kelihatan memegang-megang semua telor. Belum ada tanda-tanda mau membeli. Penjual mulai tak sabar).
Turis: ”Segini kok besar to, Bu. Kecil-kecil gini lho. Kalau saya pingin telur ayam yang besar-besar, buat oleh-oleh”.
(Rayuannya nggak mempan dan dagangannya dikritik, kontan penjual balik ke sifat aslinya, lupa akan semangat enterpreneurship-nya).
Penjual: ”Sampiyan iku yok opo sih, Cak?! Ini kan sudah ukuran dari sananya! Lha nek nuruti sampeyan, dobol kabeh silite pitik. Ganteng-ganteng … goblok!”.

 

Pisang Tanduk

Penjual: ”Pisang tanduk, pisang tanduk, … panjang, besar, manis. Silakan pilih sendiri”.
Pembeli: ”Ah …, pisangnya kecil-kecil pendek-pendek begini lho….!”
Penjual: ”Boo-aboo …, kalau seperti ini dibilang kecil-kecil, pendek-pendek, ya beli sajja belalainya gajah!”

 

Jeruk Manis

Pembeli: “Jeruknya manis, Pak?”
Penjual: “Silakan dicoba, Mbak.”.
Pembeli: “Baiklah. Saya beli sekilo.”
(Sesampai di rumah, jeruk dimakan. Ternyata semuanya kecut. Maka, sambil marah didatangilah penjual jeruk itu)
Pembeli: ”Bapak ini bohong! Jeruk kecutnya kayak gitu kok dibilang manis”.
Penjual: ”Boo-abbo, sampiyan jangan marah dulu. Yang bilang manis ’kan sampiyan. Saya cuma bilang “silakan coba”, kan? Saya suruh nyoba, sampai langsung beli. Dan lagi, sampiyan jangan dit-medit. Cuma beli sekilo, sampiyan sudah marah. Lihat …, saya yang terlanjur tiga karung … nang-tenang saja. Nggak rah-marah kayak sampiyan”.

 

Salah Siapa

Sebuah jeep yang dikendarai sepasang turis asing sedang mencari tempat parkir di stadion tempat berlangsungnya karapan sapi. Tiba-tiba mobil tersebut ditabrak dari belakang oleh sepeda motor yang dikendarai oleh Brudin, pemuda setempat.

Turis (fasih bahasa Indonesia): ”Saudara bersalah karena menabrak dari belakang. Saudara harus membayar biaya perbaikan mobil saya.”
Brudin: ”Enak saja. Saudara yang bersalah, harus membayar biaya perbaikan sepeda motor saya!”
Turis: ”Di mana salah saya?! Saya pelan cari tempat parkir, Saudara tabrak dari belakang.”
Brudin: ”Salah Saudara adalah datang di Pulau Madura. Coba kalau nggak datang ke sini, pasti tak terjadi tabrakan.”

dicuplik dari http://www.alapola.com/ dan  http://sastra-bahasa.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *