Pengembangan Objek Wisata Madura Berbasis Lokal

Posted on 30/12/2011

Assyam Nepany

Pulau madura merupakan pulau yang menyimpan banyak potensi wisata. Potensi wisata yang terdapat di pulau madura meliputi potensi wisata alam, budaya dan potensi wisata sejarah yang tersebar di empat kabupaten di pulau madura, kabupaten tersebut meliputi Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan. Dengan konsep pengembangan objek wisata yang baik objek-objek wisata tersebut dapat menjadi penarik bagi wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung ke Pulau Madura.

Objek wisata alam utama di Pulau Madura adalah keindahan panorama pantai yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan objek wisata. Pantai-pantai potensial antara lain Pantai Siring Kemuning di Kab. Bangkalan, Pantai Camplong, Pantai Nipah, di Kab. Sampang, Pantai Talangsiring, dan Jumiang di Kab. Pamekasan, serta Pantai Slopeng dan Lombang di Kab. Sumenep. Selain objek wisata alam yang berupa keindahan pantai di Pulau Madura juga terdapat objek-objek wisata alam lain yang potensial untuk dijadikan sebagai kawasan wisata, objek tersebut antara lain Api Abadi yang terletak di Kabupaten Pamekasan serta beberapa gua di Kabupaten Sumenep yang memliki nilai sejarah.

Selain objek wisata alam Pulau Madura kaya akan objek wisata sejarah dan budaya. Di antaranya, atraksi kerapan sapi dan sapi sonok yang terdapat di seluruh Kabupaten di Pulau Madura. Atraksi yang telah menjadi ciri khas Madura ini bisa disaksikan antara Agustus-Oktober setiap tahunnya. Atraksi lainnya, tari topeng dalang, serta tari pecut di Sumenep. Sedangkan objek wisata sejarah di antaranya makam Aer Mata Ebu di Bangkalan, makam Ratu Ebu di Madegan Sampang, serta makam Asta Tinggi di Sumenep. Namun objek-objek wisata ini perlu konsep pengembangan yang lebih baik dan aksesibilitas yang baik pula, agar lebih menarik dan diminati oleh wisatawan lokal maupun asing.

Menurut Bupati Sampang, Fadhilah Budiono kendala utama pengembangan wisata di Madura kata Bupati Sampang karena belum terbangunnya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang bakal menghubungkan Surabaya-Kamal. Namun pascapengoprasian jembatan suranmadu aksesiblitas bukan merupakan kendala utama lagi, pembukaan jembatan suramadu 10 Juni 2009 oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono akan mengubah “wajah” industri kepariwisataan di Pulau Madura. Pembangunan jembatan suramadu selain akan mempermudah aksesibilitas juga akan dapat memangkas waktu tempuh wisatawan menuju Pulau Madura. Kemudahan aksesibilitas dan waktu tempuh menuju kawasan objek wisata menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan objek wisata yang akan dikunjungi

Namun pada kenyataannya, sampai sekarang pengoprasian jembatan suramadu masih belum bisah mengubah “wajah” industri kepariwisataan di madura, yang ditandai tidak adanya perubahan signifikan terhadap arus wisatawan yang berkunjung ke madura. Menurut Siti Musrifah hal ini karena disebabkan masih minimnya sarana-sarana penunjang kepariwisataan yang terdapat di kawasan objek wisata di Pulau Madura. Selain itu, kebijakan pengembangan objek wisata di madura tidak menempatkan masyarakat desa dan masyarakat pantai sebagai pelaku utama.

Oleh karena itu, terkait dengan perlunya pemerintah untuk mengembangkan objek wisata yang melibatkan dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, maka local community-based sebuah konsep pengembangan objek wisata lokal Madura pasca Jembatan Suramadu merupakan konsep alternatif sebagai upaya pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat di Madura.

Local Community-Based Sebuah Konsep Pengembangan Objek Wisata Lokal Madura

Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata budaya Madura haruslah berdampak pada dua aspek, yaitu aspek ekonomi dan aspek konservasi budaya. Pada aspek ekonomi, masyarakat akan memperoleh keuntungan ekonomi, sehingga bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Keuntungan itu bisa diperoleh secara langsung atau tidak langsung. Pada aspek konservasi, masyarakat akan berupaya keras untuk melestarikan potensi budaya yang mereka miliki. Karena hanya dengan cara demikian, potensi budaya yang mereka miliki itu bisa “dijual” kepada wisatawan untuk memperoleh keuntungan ekonomik.

Kunjungan para wisatawan sudah seharusnya dapat memberikan fee kepada penduduk sekitar obyek wisata Madura, misalnya dengan cara menjual barang-barang konsumsi dan cindera mata lokal. Jika keuntungan ekonomi tersebut memberikan dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan penduduk, niscaya mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Mereka juga akan senang hati dan ikhlas menjaga potensi wisata budaya tersebut secara optimal untuk menarik minat wisatawan secara berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat Madura pemilik potensi wisata budaya tersebut benar-benar diposisikan sebagai subjek pariwisata daerah. Dengan perkataan lain, konsep ini telah menempatkan secara langsung masyarakat sebagai basis pengembangan wisata di pulau ini.

Jika konsep atau kebijakan tersebut yang akan dikembangkan, maka tugas pemerintah daerah atau dinas pariwisata menjadi lebih ringan. Peranan pemerintah hanya membuat regulasi pariwisata budaya dengan berpihak pada kepentingan masyarakat lokal. Secara tidak langsung, pemerintah telah memberi ruang yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ambil bagian secara aktif di sektor jasa pariwisata. Kebijakan ini harus benar-benar dapat dimaknai sebagai bagian dari upaya pemerintah memberdayakan sosial-ekonomi masyarakat lokal di Madura dan memerangi kemiskinan melalui kegiatan pariwisata. Dengan demikian, kegiatan pariwisata budaya di Madura harus berbasis geografi pedesaan dan masyarakat lokal, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat Madura sebagai pemilik sekaligus pemelihara wisata yang ada.

Dalam mengembangkan kepariwisataan Pulau Madura pemerintah daerah masing-masing kabupaten di Pulau Madura handaknya melibatkan masyarakat dalam proses pengembnagan kepariwisataan. Dalam pelibatan masyrakat tersebut hendaknya diperhatikan hal-hal berikut.

Potensi Madura dalam Menarik Wisatawan Mancanegara

Madura memiliki banyak tempat wisata yang tidak kalah indahnya dengan tempat wisata yang ada di luar negeri. Namun, sedikit sekali dari wisa tawan asing atau turis mancanegara yang mau datang untuk berkunjung melihat keindahan dan keunikan pulau Madura. Hal ini disebabkan kurangnya sumber daya manusia (SDM) masyarakat madura dalam pengetahuan dan kecakapan berba hasa internasional (bahasa inggris) serta kurang atau tidak adanya pemandu wisata yang profesional, dalam artian ia mempunyai wawasan yang sangat luas tentang kepariwisataan. Karena itu pemerintah daerah perlu menggalakkan kegiatan-kegitan yang dapat meninglkatkan kemampuan masyrakat Madura dalam menguasai bahasa asing.

Masyarakat madura pada umumnya menganggap  wisatawan asing hanya dapat membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar dan masyarakat madura. Padahal tidaklah demikian, asalkan kita bergaul dengan bangsa asing itu tidak melampaui batas dan mengikuti norma-norma yang ada, kita tidak akan dapat terpengaruh atau dipengaruhi oleh mereka. Jika masyarakat tahu dan mengerti akan manfaat kepariwisataan,   terutama   dalam   menarik   wisatawan   asing,   omset daerah dan penghasilan perekonomian masyarakat akan meningkat

Potensi Madura Sebagai Daerah Tujuan Wisatawan Lokal

Tujuan berwisata adalah menghibur diri dengan mencari suasana yang berbeda, untuk mendapatkan ketenangan pikiran dan kesenangan hati. Berwisata dapat menyegarkan pikiran kita (self refresh) yang mana dalam kesehari-harian kita selalu disibukkan dengan segala macam urusan dan dengan berwisata kita bias leluasa sejenak, melepas kepenatan (Agus Sutejo, 2007: 21). Namun berwisata bukan untuk tujuan mencari kesenangan nafsu semata, melainkan kita berwisata adalah untuk menghilang kan rasa stres di pikiran kita dan mencari inspirasi baru, apa yang kita dapatkan nanti setelah kita berwisata.

Madura khususnya di kabupaten Sumenep, banyak menyimpan khasanah budaya dan tempat wisata yang cocok untuk melakukan ziarah, seperti tempat pemakaman para Raja-raja (Asta Tinggi) yang terletak di desa Kebunagung, makam Kyai Abu Sujak di Asta Barat Kebunagung, makam makam Pangeran Lordan Wetan di Karangduak, makam Pangeran Standur di Desa Bangkalmakam Syech Yusuf di Kepulauan Talango, Asta Panaungan di Desa Pa songsongan dan banyak lagi tempat berziarah lain yang belum diketahui masyarakat umum atau tidak terkenal.

Kawasan-kawasan wisata religious tersebut jika dikembangkan dengan baik dan dikemas secara menarik akan menjadi magnet untuk menarik wisatawa-wisatawan local berkunjung ke Pulau Madura. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa wisatawan local biasanya lebih memilih kegiatan-kegiatan wisata yang bersifat religious dan kuliner (Agus Sutejo, 2007:36)

Fokus Program Dan Tujuan Umum Pariwisata

Sasaran akhir kerja sama antara pemerintah daerah dengan  masyarakat dalam pariwisata adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas performance bisnis pariwisata, sehingga memberi kan dampak pada pendptaan pendapatan, lapangan kerja, dan juga pengurangan kemiskinan di daerah tersebut (wikipedia.com/pariwisata). Peningkatan kuantitas dan kualitas tersebut dapat berupa pertumbuhan usaha baru atau wirausaha baru. Sehingga tercapai tujuan umum dari pariwisata:

  1. Meningkatkan penghasilan kelompok masya rakat miskin.
  2. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat termasuk masyarakat miskin, kelompok perem puan, dan kelompok lain yang selama ini terping girkan
  3. Menciptakan lapangan kerja yangluas bagi masyarakat miskin.
  4. Meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap berbagai kegiatan ekonomi produktif.
  5. Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat
  6. Memperbaiki kapasitas kelembagaan masyarakat
  7. Meningkatkan kapasitias pemerintah dae rah dalam pelayanan masyarakat miskin.

 Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah di Pulau Madura hendaknya dalam proses pengembangan kepariwisataan pasca pengoperasian Jembatan Suramadu melibatkan masyrakat setempat, baik dalam proses pengembangan maupun pemeliharaan kawasan objek wisata. Hal-hal yang perlu dikembangkan untuk mengoptimalkan kawasan potensi wisata Pulau Madura meliputi peningkatan keindahan dan keberagaman antrajsi wisata, peningktan aksesesibilitas, dan pembenahan sarana-srana penunjang kepariwisataan

Referensi

Amrullah. 2010. Potensi Wisata di Pulau Madura. geowisata.blogspot.com (browsing tanggal 14 Juni jam 18.00 WIB)
Anonim. 2009. Jembatan Suramadu Wikipedia.com/suramadu (browsing tanggal 14 Juni jam 18.00 WIB).
Anonim. 2009. Kawasan Pariwisata. wikipedia.com/pariwisata. (browsing tanggal 25 april jam 18.00 WIB)
Musrifah, Siti. 2009. Potensi Wisata Madura Pasca Pembangunan Jembatan Suramadu. Surabaya
Nashrullah, Akhmad. 2009. Daya Tarik Objek Wisata Pulau Madura. www.kabarmadura.com (browsing tanggal 14 Juni jam 18.00 WIB).
Sutejo, Agus. 2007. Geografi Pariwisata. Surabaya: Unipres UNESA
Wijiattmoko.2008. Potensi Terpendam Pulau Madura. kabarmadura.com. browsing tanggal 25 april jam 18.00 WIB)
 Sumber: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/

Tags: , , , ,

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *