Kerapan Sapi Gubeng 2011, Rebut Piala Presiden

Posted on 24/10/2011

Kerapan Sapi Gubeng (kerapan besar)  yanKerapan Sapi Gubeng 2011, Rebut Piala Presideng memeperebutkan piala Presiden berlangsung meriah, 23 Oktober 2011 lalu di Pamekasan , dengan suasana terik matahari yang cukup mencekam.  Memang saat-saat semacam itulah, kerapan sapi dapat dilaksanakan dengan sempurna.Kerapan sapi diikuti empat Kabupaten di Pulau Madura, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Sebagai tradisi tahunan kerapan sapi cukup mendapat perhatian tingga bagi masyarakat Madura, karena tradisi kerapan sapi menjadi tumbuhan sebagai peristiwa tradisi yang belangsung secara turun temurun yang konon dimulai sejak abad ke-15  (1561 M) dipelopori oleh Pangeran Katandur

Dalam menyambut peristiwa budaya ini, diawali sejumlah acara-acara pentas seni tradisi, yang secara langsung dilaksanakan di Kabupaten Pamekasan sebagai wilayah Bakorwil Madura.

“Masing-masing kabupaten di Madura, mulai dari Bangkalan, Kabupaten Sampang, Pamekasan dan Kabupaten Sumenep mengirim enam pasang sapi karapan. Dengan rincian, tiga pasang sapi karapan di bagian ‘menang’, sedangkan tiga pasang lainnya di bagian ‘kalah’,” ujar Sekretaris Bakorwil IV Pamekasan, Tajul Arifin dihadapan sejumlah wartawan. “

Jadi untuk merebut piala bergengsi ini diikuti 24  pasang sapi, dengan harapan kerapan tersebut bisa diakhiri satu hari. Namun dalam perjalanan peristiwa kerapan sapi umumnya, tidak selalu berlangsung mulus  pada hari yang ditentukan. Persoalan-persoalan muncul yang kerap terjadi disetiap peristiwa kerapan, yaitu persoalan protes karena ketidakpuasaan penetapan pemenang dalam pada putaran kerapan.

Banyak pihak menengerai ketidak mulusan ini bisa jadi dipicu oleh ulah pihak ketiga, yaitu para petarus yang  kerap menimbulkan persoalan pelaksanaan kerapan. Namun demikian, meski kerap terjadi kericuhan,  biasanya terjadi pengulangan atau penambahan waktu untuk saling memuaskan peserta maupun panitia. Dan benar, pada tahun ini pun panitia dengan terpaksa menambah waktu pada keesokan harinya, 24 Oktober 2011.

Untuk diikuti sertakan pada tingkat Gubeng ini, peserta harus melalui tingkat kecamatan  (Pembantu Bupati), Kabupaten dan yang terpilih 6 pasang diikutkan tingkat Bakorwil Madura.

Yang unik dalam lomba (kerapan) sapi ini telah menjadi kebiasaan para pemenang atau yang terpilih dibagi menjadi, yaitu juara dari kelompok dan juara dari kelompok kalah.

Konon, terjadinya dua kelompok kejuaraan ini, pernah terjadi lantaran ketika pasang sapi yang dinyatakan kalan dalam babak penyisihan terjadinya protes, sehingga menimbulkan persoalan dalam proses kerapan tersebut. Akhirnya disepakati pihak yang kalan diperlombakan lagi antar yang kalah, untuk merebut kelompok juara yang kalah.

Hal terjadi hampir semua periswa kerapan, baik ditingkat kecamatan/pembantu bupati (kerap kene’), tingkat kabupaten (kerap raje) dan tingkat Madura (kerap Gubeng).

Kerapan sapi untuk tingkat Madura biasa berlangsung sekitar bulan Agustus – Oktober. Hal ini sebagai bentuk peristiwa hiburan rakyat menjelang memasuki musim hujan. Dan pada saat bersamaan waktu tersebut, masyarakat Madura khususnya masyarakat pedesaan memasuki masa panen  tembakau, sehingga dalam peristiwa kerapan sapi, bukan semata-mata keberlangsungan kerapan sapi itu sendiri, namun ada pesta yang menjadikan masyarakat bersuka cita memeriahkan peristiwa budaya tersebut.

Bagi pemilik sapi, juara merupakan ambisi yang harus direbut. Untuk mempersiapkan sapi yang siap tempur dibutuhkan biaya besar. Konon menurut pengakuan salah seorang pemilik dari Sumenep, dia menghabiskan puluhan juga untuk mempersiapkan sepasang sapinya.

Untuk jamu sapi saja setiap diminumi puluhan butir telur seperangkat jamu lainnya, untuk menguatkan otot dan tubuh sang sapi. “Ini belum lagi kebutuhan se manjeggi, orang-orang yang mendampingi mulai penabuh musik saronen, yang merawat dan kegiatan lainnya”, ujarnya. Meski demikian, sambungnya, apabila nantinya mendapat juara akan dapat nilai harga sapi jauh meningkat,  bisa jadi berharga ratusan juta bila meraih juara satu.

MUI Protes Dianggap Penyiksaan.
Untuk mempercepat laju sapi yang dikerap, sang joki biasanya menggukan alat yang dipulkan di bokong sapinya. Alat ini kerap disalahkangunakan yaitu dengan menggukan benda tajam (paku dan sejenisnya)  yang dipukulkan (digaruk-garukkan) di bokong sapi sehingga sapi terasa  sakit dan secara spontan akan berlari lebih kencang.

Cara ini memang sejak awal  ditolak oleh masyarakat, lantaran dengan penggunakan alat tersebut sama artinya dengan meluakai dan penyiksaan. Padahal pada awalnya, kegiatan kerapan sapi ini diniatkan sebagai bentuk kecintaan kepada hewan agar sapi biasa terawat dengan baik, disamping sebagai hiburan dalam mengakhiri musim kemarau.

Awal alat pemicu sapi tersebut yaitu berupa sepotong ujung tangkai daun kelapa kering atau dibektuk semacam pecut. Hal ini sebagai alat penggertak saja tidak dipukulkan dengan keras, sehingga tidak melukai sapi. Entah bagaimanan alat pemicu tersebut pada waktu-waktu selanjutnya sang joki menggunakan alat sampai melukai bokong sapi.

Barangkali hal inilah salah penyebab Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengirim surat ke Kantor Bakorwil IV Pamekasan, Madura selaku panitia pelaksanaan karapan sapi piala Presiden 23 Oktober 2011 agar melarang praktik penyisaan dalam pelaksanaan acara budaya di wilayah itu.

MUI meminta agar unsur penyiksaan binatang dalam pelaksanaan karapan sapi memperebutkan piala Presiden yang akan digelar pada 23 Oktober 2011 ini dihapus. Demikian juga telah menjadi kebiasaan kerapan sapi dijadikan alat perjudian yang sudah jelas-jelas dilarang hukum apapun. Surat protes yang bersadarkan hasil musyawarah Ormas-ormas Islam itu, agar pelaksanaan kerapan benar-benar diawasi secara ketat. Secara moral banyak pihak yang dirugikan.

Selain tersebut, tuntutan yang ketiga, meminta agar masyarakat tidak mengabaikan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Sebab, menurut Ali Rahwini, setiap karapan sapi, baik di tingkat kabupaten, apalagi di tingkat karesidenan (Madura), para penonton dan panitia pelaksana selalu mengabaikan shalat.

Yang keempat, para ulama menolak unsur-unsur lain yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam. “Di Pamekasan ini kan kota yang menerapkan Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam),” kata KH Ali Rahbini menjelaskan.

Ada tiga Ormas Islam yang menandatangani surat penolakan praktik karapan sapi yang disampaikan MUI dan para ulama dari berbagai Ormas Islam yang ada di Pamekasan ini. Yakni Ketua MUI Pamekasan KH Ali Rahbini Abdul latif, Ketua Forum Ormas Islam (Fokus) HK Abd Ghaffar, dan Ketua Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI) Moh Zahid.

Selain ditujukan kepada Bakorwil IV Pamekasan, Madura selaku pelaksana festifal karapan sapi, surat MUI bersama Ormas Islam lainnya ini juga ditembuskan ke Kapolres, Komandan Kodim 0826, Ketua DPRD dan Ketua Pangadilan Negeri Pamekasan. (Syaf/Lontar Madura)

Tags: , , ,

Categories: Peristiwa


5 Responses

  1. Joshap:

    ow gitu tha…wah mantep dunk…

    13.01.2012 22:53 Reply

  2. joko saputra:

    Gubeng 2011 itu nama sapinya ya….wah keren dunk…seharusnya acara piala presiden itu disiarkan live di televisi, masak hanya bola dan musik ja yang live…oleh karena itu “Karapan Sapi Untuk Madura Untuk Indonesia”

    10.01.2012 15:15 Reply

  3. Joshap:

    Menurut saya itu sebuah budaya dan hiburan,masyarkat akan berusaha bagaimanapun sapinya tidak disakiti itu juga untuk menjaga nilai jual dari sapi tersebut
    http://joshap.com/2011/12/31/karapan-sapi-untuk-madura-untuk-indonesia/

    06.01.2012 07:05 Reply

  4. cyberyaqin:

    ku harap tradisi ini tetap ada namun tanpa ada penyiksaan… biarkan sapi-sapi itu berlari dengan kesenangan hati mereka

    http://cyberyaqin.blogspot.com/2011/12/karapan-sapi-itu-apa.html

    01.01.2012 17:07 Reply

    • admin:

      Awalnya, alat pemukul sapi kerapan bukan dari paku yang digunakan joki selama ini, tapi dari pelepah daun kelapa kering, yang pastinya tidak akan melukai pinggul sapi. baca juga disini

      01.01.2012 20:20 Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*