Pemukiman dan Kehidupan Sosial Nelayan Kampung Bandaran

Posted on 25/02/2011

oleh: Dwi Defriani

Indonesia merupakbandaranan negara maritim yang mempunyai luas wilayah perairan. Garis pantainya mencapai lebih 81.000 km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa digolongkan sebagai desa pesisir. Sebagian besar dari masyarakat pesisir tersebut bermata pencarian sebagai nelayan. Seiring berjalannya waktu kampung-kampung nelayan tersebut berkembang. Sebagian berkembang mengikuti garis pantai yang kemudian memanfaatkan pantai bukan hanya sebagai tempat tinggal dan membangun perekonomian, namun juga sebagai derah pariwisata. Sebagian lain memanfaatkan alira n sungai yang bermuara ke laut sebagai areal yang aman untuk bermukim.

Perkembangan pemukiman yang memanfaatkan sungai inilah yang menjadi objek penelitian yaitu Kampung Bandaran yang terletak di Kabupaten Bangkalan, Madura.

Sungai yang berfungsi sebagai jalur transportasi yang kemudian dimanfaatkan juga sebagai tambatan perahu nelayan. Rumah merupakan tempat tinggal yang berfungi untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Bagi nelayan, rumah selain sebagai tempat perlindungan, juga merupakan sarana pendukung aktivitas melaut. Desain rumah nelayan di kampung Bandaran menunjukkan adanya perubahan yang disebabkan adanya pembauran nilai-nilai budaya yang sudah ada dan masuknya bentuk budaya baru dan menggeser makna simbolis dari rumah di kampung nelayan tradisional.

Pendahuluan

Kawasan perdesaan dan perkampungan dalam konteks pengembangan wilayah di Indonesia mempunyai kedudukan yang cukup penting. Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi oleh kawasan perdesaan. Menurut Harun (1997), secara agreratif nasional, apabila dilihat dari tingkat perdesaannya (lingkungan tempat tinggal, kegiatan utamanya pertanian) pada akhir abad ke-20 sampai dengan awal abad ke-21 lebih dari 60% masyarakat Indonesia hidup di lingkungan perdesaan.

Hal itu berarti bahwa kehidupan Bangsa Indonesia masih didominasi oleh cara dan ciri hidup perdesaan (rural way of life). Pertumbuhan kawasan perdesaan diharapkan dapat berjalan seiring dengan kemajuan kawasan perkotaan sesuai dengan konsep trickle down effect dalam konsep pertumbuhan. Variabel yang akan dikaji adalah variabel sosial, ekonomi dan budaya termasuk di dalamnya adalah kondisi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang ada.

Kampung Bandaran merupakan salah satu kampung nelayan yang berada di Kabupaten Bangkalan, yang merupakan sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura yang besar pulaunya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali); berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur, serta Selat Madura di selatan dan barat.

Madura Barat, sebagai salah satu wilayah di Pulau Madura, dalam tautan regional kedudukan dan perannya cukup strategis. Karena wilayah ini menjadi pintu gerbang Pulau Madura, maka tidak tertutup kemungkinan seluruh aspek budaya luar masuk ke wilayah tersebut. Budaya masuk melalui baik masyarakat luar yang membawa aspek budaya aslinya, maupun masyarakat Madura sendiri merantau dan kembali membawa aspek budaya perantauan. Hal ini telah ditunjukkan oleh sejarah kebudayaan Madura (De Graff, 74 : 210 : Tjiptoadmodjo, 83 : 298).

Kampung Bandaran termasuk perkampungan nelayan tradisional khas Madura. Namun seiring perkembangan arus informasi dan transportasi, menyebabkan adanya perkembangan dan pergeseran arsitektur yang semula merupakan arsitektur tradisional cenderung meniru arsitektur luar daerah dimana bangunannya telah bersifat permanen.

Kabupaten Bangkalan

Kabupaten Bangkalan terletak di ujung barat pulau Madura, secara geografis – Bujur Timur 1120 40’ 06” – 1130 08’ 04”- Lintang Selatan 60 51’ 39” – 70 50’. Dengan batas-batas wilayah : Batas Wilayah Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Madura, Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Madura, Sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Sampang. Dari segi geografis ini Kab. Bangkalan mempunyai keuntungan yang sangat strategis, karena berdekatan dengan Surabaya yang merupakan pusat perdagangan di Jawa Timur.

Kabupaten Bangkalan merupakan daerah Pengembangan Industri GERBANG KERTASUSILA, dan termasuk dalam Pengembangan Kota Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Surabaya Urban Development Policy. Kabupaten Bangkalan terdiri dari 18 kecamatan, 281 desa, dengan luas wilayah 1.260,14 km².

Potensi sumber daya alamnya yang meliputi beberapa sektor yaitu pertanian, peternakan, perikanan, dan pertambangan serta sektor pariwisata, merupakan produk – produk andalan dan investasi yang sangat potensial bagi Kabupaten Bangkalan. Dengan dibangunnya jembatan penyeberangan SURAMADU, yang menghubungkan secara langsung jalur darat antara Surabaya dan Bangkalan, tentunya akan berdampak positif bagi pengembangan Industri Perdagangan dan Investasi di Kabupaten Bangkalan sesuai dengan potensi yang ada.

Beberapa keunggulan kompetitif yang dimiliki Kabupaten Bangkalan antara lain :

  • Letak Geografis
  • Potensi Alam
  • Kedekatan dengan Surabaya sebagai pintu gerbang Pulau Jawa
  • Kemudahan dan fasilitas untuk investasi yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bangkalan

Sumber daya manusia yang ada di Kabupaten bangkalan, dimana penduduknya sangat agamis dan mayoritas beragama Islam, diharapkan siap untuk menerima perkembangan di segala bidang terutama perkembangan disektor Industri Perdagangan dan Penanaman Modal, dimana kita dituntut untuk mampu bersaing dalam kemajuan teknologi dan perdagangan dunia.

Secara umum, Provinsi Jawa Timur memiliki wilayah perairan laut seluas 208.097 km² mencakup zona ekonomi eksklusif atau garis pantai sekitar 2.916 km. Sebagai daerah penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut, wilayah yang mencapai empat kali luas daratan Jatim itu terbagi menjadi laut utara (Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya).

Empat wilayah lainnya terdiri dari kepulauan, yakni Selat Madura teridiri dari Kab. Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan perairan laut utara Kab. Banyuwangi, Laut Muncar/Selat Bali, serta laut selatan/Samudra Indonesia (Kab. Banyuwangi bagian selatan, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan).

Adapun jenis ikan yang dapat ditangkap di perairan Jatim dapat dikelompokkan antara lain pelagis besar meliputi berbagai jenis tuna, cakalang, marlin, tongkol, tengiri, cucut. Pelagis kecil terdiri layang, selar, sunglir, lemuru, siro, kembung. Banyak pula kelompok ikan demarsal yakni kakap merah, kerapu, manyung, pari, bawal, layur, peperek, kuniran, beloso dan sebagainya. Hasil yang merupakan tangkapan untuk pulau Madura sendiri sebesar 56.000 ton (berdasarkan data yang diperoleh dari Bisnis dari Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur.

Tags: , , , ,

Categories: Artikel

Pages: page 1 page 2 page 3 page 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *