Selamat datang di laman Lontar Madura semoga Anda menikmati informasi sekitar Madura, melalui perangkat mobile Anda.

Adat dan Kepribadian Orang Madura

Diposting pada: 19/05/2011

Oleh Syaf Anton Wr

Pelabuhan Kamal Tahun 1950

Pelabuhan Kamal Tahun 1950

Adat dan kepribadian orang Madura merupakan titik tolak terbentuknya watak dengan prinsip teguh yang dipengaruhi oleh karakteristik geografis daerahnya. Satu prinsip yang menjadi fenomena orang Madura, ialah dikenal sebagai orang yang mampu mengambil dan menarik manfaat yang dilakukan dari hasil budi orang lain, tanpa mengorbankan kepribadiannya sendiri. Demikian pula orang Madura pada umumnya menghargai dan menjunjung tinggi rasa solidaritas kepada orang lain.

Sikap hidup semacam ini, menjadikan orang-orang Madura diluar Madura mudah dikenal, supel serta menunjukkan sikap toleran terhadap sesame. Kadang kontradiktif bila melihat penampilan fisik bila dibandingkan kenyataan hidup yang sebenarnya. Sebagai contoh, bila satu rumah tangga kedatangan tamu (apalagi tamu jauh), dapat dipastikan mereka sangat dihormati. Mereka berani berkorban untuk menjamu sang tamu, meski hanya secangkir air. Kalaupun dapat, mereka berusaha memuaskan dengan jamuan lebih, bahkan berani mencari hutang demi menghormati tamu. Tapi sebaliknya apabila penghargaan itu ditolak atau meski sedikit tidak mau dicicipi suguhannya, maka tamu tersebut berarti dianggap menginjak penghargaan tuan rumah. Dan kemungkinan semacam ini akan tumbuh benih-benih rasa benci dan dendam

Sebagai suku yang hidup di kepualauan, orang Madura dijaman dulu kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Mereka sangat berhati-hati, dan akibatnya sesuatu yang datang dari luar merupakan ancaman bagi dirinya. Meskipun pada dasarnya mereka konservatif, yakni berusaha memelihara dan menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya. Tapi dalam segi yang lain, orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk menjamin dan bertahan kelangsungan hidup, karena mereka didorong untuk menerima dan memanfaatkan nilai-nilai yang terserap dari luar.

Sebagai contoh yang paling gamblang, ketika tentara Bali menerima kekalahan di Sumenep, mereka dihargai sebagai tamu dan sebagai saudara untuk kemudian memperkenalkan cara-cara bertani garam. Maka secepat itu orang-orang setempat menyebarkan keseluruh Madura.

Demikian pula dari kedatangan bangsa Cina ke Madura, banyak mempengaruhi cara hidup dalam sumber mata pencaharian, khususnya dalam ilmu berdagang. Hingga dalam bentuk budayapun sangat berpengaruh dalam bentuk gaya bangunan, sehingga arsitektur bangunan di Madura banyak mirip dengan bentuk-bentuk bangunan gaya Cina. Pengaruh arsitektur ini pada awalnya dibawa oleh Lauw Pia Ngo yang membangun Keraton Sumenep dan arsitektur bangunan Masjid Jamik Sumenep pada jaman pemerintahan Panembahan Sumolo (Tumenggung Ario Noto Kusumo) tahun 1762-1784 M.

Demikian pula, dengan kedatangan para saudagar Gujarat yang menyiarkan agama Islam di Madura, mampu dan berhasil mengislamkan para pemimpin dan bangsawan Madura sampai menyebar keseluruh pelosok Madura. Dengan bukti-bukti tersebut, maka tidak benar bila watak dan sikap hidup Madura bebal dan sulit diajak kerja sama. Bahkan sebaliknya, justru mereka lebih akrab, terbuka dalam kondisi apapuna.

Namun kemungkinan besar, kalaupun terjadi controversial, terletak pada terputusnya komunikasi bahasa yang orang luar menganggap angkuh dan bertahan. Padahal sebenarnya, bila seseorang mengenal lebih jauh dan berkomunikasi lancer dengan orang Madura maka akan sirna bayangan keras dan bringas itu. Kecuali terhadap pendatang yang congkak, menyinggung perasaan dan mau merusak harga diri dan hak kepentingannya, maka tak segan-segan mereka akan berbicara melalui kekerasan. Atau dengan kata lain, meski dengan wajah angker dan bringas belum tentu berarti berprilaku kasar atau keras. Orang Madura lebih terbuka.

Satu falsafah yang membebani orang Madura menjadi ramah, taat tunduk dan sopan, dalam bahasa Madura disebut : Bapa’, Babu’, Guru, Rato ( Bapak, Ibu, Guru, Raja). Rato disini mempunyai pengertian pimpinan atau pemerintah. Maka tak heran bila di Madura sendiri jarang terjadi “ pemberontakan” yang kaitannya dengan permasalahan kepemiminan, selama rakyat diperhatikan keberadaannya. Dan mereka akan memberontak bila ketidakadilan terjadi sebagaimana terjadi pada peristiwa-peristiwa pemberontakan Trunojoyo dan lainnya.

Di lain hal, guru/kiai bagi orang Madura merupakan tokoh sentral yang wajib dianut, terutama diwilayah bagian Timur (Pamekasan-Sumenep). Sedang di wilayah Barat (Bangkalan-Sampang) tokoh sentralnya tidak selalu kiai, bahkan tokoh kriminalpun kadang menjadi panutan bagi masyarakat tertentu. Maka tak heran, bila carok kerap terjadi di daerah itu.

Meski demikian, paling tidak kriminalitas dan carok di Madura banyak mengalami grafik menurun. Hal ini tentu berkat kesigapan dan pembinaan aparat pemerintah setempat, sehingga keamanan dan ketertiban cukup terjamin. Dua hal yang mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk tidak berbuat criminal, yang pertama adalah kewibawaan aparat keamanan yang mulai menyatu dengan masyarakat, dan yang kedua kekompakan masyarakat untuk menghindar dan menjaga kemungkinan terjadi tindakan criminal serta memelihara keamanan dan ketertiban.

Lalu apa kaitannya, antara watak orang Madura sendiri dengan orang Madura di Jawa? Bila melihat perkembangan masyarakat Madura, pada tahun terkahir ini, hamper tidak dapat dibedakan antara orang Madura dengan orang Madura luar Madura dalam hal perkelahian carok. Sehingga setiap perkelahian yang menggunakan senjata tajam clurit masyarakat secara langsung mengklaim perkelahian dilakukan oleh orang Madura.

Perlu dimaklumi, pada permulaan sejarah, Madura banyak diisi oleh pendatang dari tanah Jawa, maka pada abad-abad berikutnya setelah hutan di Madura menjadi gundul dan tanahnya menjadi tandus dan gersang, mereka mulai meninggalkan Madura ke tanah Jawa. Hal ini mengakibatkan tanah di Madura semakin tidak terurus yang pada akhirnya datanglah masa-masa Madura disebut sebagai daerah kering dan rawan. Eksodus orang-orang Madura ke tanah Jawa pada umumnya mendatangi daerah-daerah pesisir bagian timur di Jawa Timur dan menyebar nulai dari Gresik sampai ke Banyuwangi sebagai nelayan dan pedagang. Kemudian pada periode berikutnya mulai merambah kedaerah pegunungan sebagai petani.

Daerah pantai Jawa Timur yang menjadi sasaran mulai dari pantai Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo,  Besuki, Situbondo, dan Banyuwangi. Sedang daerah pertanian yang menjadi sasaran mulai dari Bondowoso, Banyuwangi hingga Lumajang sampai perbatasan Malang. Jadi tak heran bila daerah-daerah tersebut, khususnya bagian wilayah timur bahasa daerahnya menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari.

Dalam hal pertanian, petani Madura memang lebih rajin dan ulet dibanding petani Jawa sendiri. Rajin dan keuletan inilah banyak member kesempatan kepada pendatang orang  asal Madura lebih leluasa membuka lahan pertanian di Jawa. Hal ini disebabkan, cara kerja mereka yang semula berhadapan dengan tanah tandus, lalu beralihlah ke tanah yang subur, maka semakin bergairah. Maka tak heran bila pendatang Madura di daerah itu banyak yang berhasil, bahkan sebagian besar menjadi tuan tanah.

Pada perkembangan berikutnya dari eksodus orang-orang Madura tersebut ke tanah Jawa semakin menyatu dan merasakan tanah baru itu merupakan tanah kelahiran kedua setelah tanah kelahiran nenek miyangnya, Madura. Dan pada gilirannya, justru orang-orang Jawa sendiri nyaris malah dianggap sebagai pendatang.

Secara cultural, pada dasarnya mereka eksodus ke tanah Jawa tidak ada perbedaan dari kultur yang dibawanya. Hal ini dapat dilihat dari adat-istiadat dan sikap hidup yang hamper serupa dengan daerah asalnya. Kalau terjadi perubahan hanya terbatas pada hal-hal tertentu, yaitu dalam bentuk fisiknya saja. Meski demikian, masyarakat Jawa yang menyatu dengan kultur Madura, belum berarti memiliki sanak keluarga di Madura. Yang demikian itu merupakan salah satu bentuk perkembangan yang tidak dapat dielakkan, yang mungkin dengan terputusnya komunikasi antara Jawa dan Madura. Akan menjadikan pemisahan suku, meski pada awalnya terbentuk dari suku Madura.

Untuk menghindari terputusnya hubungan tersebut, tradisi perkumpulan silaturahmi masyarakat Madura di tanah Jawa perlu dilestarikan  (Lontar Madura)

penulis adalah budayawan, pengelola situs ini  

Kategori: Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.